Sunday, July 9, 2017

SMS Ketum Perindo Hary Tanoe, Hotman Paris: Semua Aktor Politik Pernah Mengatakan seperti Itu saat Kampanye



Isi Pesan singkat atau SMS Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo kepada Jaksa Yulianto bukan ancaman, melainkan hanya bahasa yang umum digunakan para aktor politik

Kuasa Hukum Hary Tanoe, Hotman Paris Hutapea, menjelaskan bahasa yang digunakan kliennya ini merupakan sesuatu yang umum. Bahkan Hotman menyebut Mantan Presiden AS Barack Obama hingga Presiden AS saat ini Donald Trump, pernah menggunakan “bahasa” yang serupa saat kampanye.

"Semua aktor politik di dunia ini bahkan Obama lalu Donald Trump pernah mengatakan seperti itu saat mereka kampanye," ungkap Hotman dalam Program iNews Prime, Jumat 7 Juli 2017.

Hotman mengungkapkan, dalam Undang-undang, adanya cara cek unsur ancaman harus berupa menakut-nakuti dalam bentuk kekerasan fisik.

Hary Tanoe disangkakan dengan Pasal 29 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), dalam soal SMS.

Pasal 29 UU ITE tahun 2008 berbubyi “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mengirimkan informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang berisi ancaman kekerasaan atau menakut-nakuti yang dutujukkan secara pribadi (Cyber Stalking). Ancaman pidana pasal 45 (3) Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam pasal 29 dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).”

"Nah, ini kan kata-katanya ‘kalo saya terpilih’. ‘Saya akan bersihkan’ dia (Hary Tanoe) tidak mengatakan saya akan bersihkan kamu Yulianto. Jadi ini sama sekali tidak ada ancaman ke Yulianto pribadi tetapi bersifat umum bersifat idealisme bahasa ini," jelasnya.

Hotman pun juga merasa heran dengan kasus SMS, karena selama 30 tahun ia menjadi pengacara belum pernah menemukan kasus seperti ini.

"Mangkanya saya 30 tahun jadi pengacara belum ada kasus seperti ini benar-benar tidak ada dasar hukum," tuturnya.

Hary Tanoe mengirimkan pesan kepada Yulianto sebanyak dua kali, yakni pertama pada 5 Januari 2016.

“Mas Yulianto. Kita buktikan siapa yang salah dan siapa yang benar. Siapa yang profesional dan siapa yang preman.

Anda harus ingat kekuasaan itu tidak akan langgeng. Saya masuk ke politik antara lain salah satu penyebabnya mau memberantas oknum2 penegak hukum yang semena-mena, yang transaksional, yang suka abuse of power (menyalahgunakan kekuasaan-red).”

“Catat kata-kata saya di sini, saya pasti jadi pimpinan negeri ini. Di situlah saatnya Indonesia akan dibersihkan.”

Kemudian Hary Tanoe kembali mengirimkan pesan singkat kepada Yulianto pada 7 Januari 2016.

“Mas Yulianto. Kita buktikan siapa yang salah dan siapa yang benar. Siapa yang profesional dan siapa yang preman.”

“Anda harus ingat kekuasaan itu tidak akan langgeng. Saya masuk ke politik karena ingin membuat Indonesia maju dalam arti yang sesungguhnya, termasuk penegakan hukum yang profesional, tidak transaksional, tidak bertindak semena-mena demi popularitas dan abuse of power.”

“Suatu saat saya akan jadi pimpinan negeri ini. Di situlah saatnya Indonesia akan berubah dan dibersihkan dari hal2 yang tidak sebagaimana mestinya.”

“Kasihan rakyat, yang miskin makin banyak, sementara negara lain berkembang dan makin maju.”

No comments:

Post a Comment